Connect with us

Kolaborasi Distribusi Obat Isoman - Youtube Pemprov DKI Jakarta https://www.youtube.com/watch?v=PB7JLZkONuI

DKI Jakarta

Kolaborasi Atasi Covid-19 di DKI: Dari, Oleh dan Untuk Rakyat

Melalui kolaborasi, yakin rakyat Indonesia dan warga DKI Jakarta dapat atasi Covid-19 yang semakin berbahaya.

Secara nasional, Covid-19 belum bisa dikatakan sudah dapat dikendalikan. Pada 24 Juli 2021, jumlah yang positif 45.416, total yang positif 3,127.826 orang. Sembuh 39.767, total yang sembuh 2.471.678 orang. Adapun yang meninggal 1.415, total yang meninggal sebanyak 82.103 orang.

Jumlah yang positif perhari, total yang positif Covid, begitu pula yang sembuh perhari, total yang sembuh, demikian pula yang meninggal perhari dan total yang meninggal dunia, saya yakin adalah yang direkam dari rumah sakit dan isolasi yang resmi disediakan oleh pemerintah dan pemerintah daerah.

Saya menduga belum termasuk yang positif perhari dan total yang positif, yang sembuh perhari dan total yang sembuh serta yang meninggal perhari dan total yang meninggal dunia, dari mereka yang melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Selain itu, ada yang mengatakan kepada saya bahwa turunnya jumlah yang positif perhari belakangan ini akibat dikuranginya testing.

Dengan demikian, Covid-19 masih sangat berbahaya dan dapat dikatakan kita belum aman dan kita belum berhasil melindungi segenap rakyat Indonesia dari bahaya maut akibat Covid-19.

Turun Naik Covid-19 di DKI Jakarta

Covid-19 di DKI Jakarta sempat turun beberapa hari, tetapi pada 24 Juli 2021, kembali naik.

Data yang dirilis Kementerian Kesehatan pada Sabtu 24 Juli 2021 positif Covid-19 di Jakarta sebanyak 8.360 orang. Dibandingkan hari Jumat, 23 Juli 2021, jumlah yang positif Covid-19 sebanyak 8.033 orang, hari Kamis (22/7) sebanyak 7.058 kasus atau meningkat lagi dibandingkan dengan hari Rabu (21/7) sebanyak 5.904 kasus, juga lebih tinggi dibandingkan dengan hari Selasa (20/7) sebanyak 6.213 kasus.

Kementerian Kesehatan juga memberikan rilis pasien Covid-19 di Jakarta yang sembuh pada Sabtu 24 Juli 2021 sebanyak 14.612 orang meningkat dibandingkan dengan pada Jumat (23/7) sebanyak 14.442, lebih banyak dibandingkan Kamis (22/7) sebanyak 10.631 kasus, naik sedikit ketimbang kasus Covid-19 di DKI pada Rabu 21 Juli 2021 sebanyak 10.558 pasien.

Sementara jumlah pasien Covid-19 di DKI yang meninggal dunia pada Sabtu (24/7) sebanyak 151 orang sedikit berkurang dibanding dengan Jumat (23/7) sebayak 157 orang.

Angka kematian pasien corona di Jakarta hari Sabtu 24 Juli 2021 lebih rendah dibandingkan Kamis (22/7) sebanyak 194 orang atau melonjak jika dibandingkan Rabu (21/7) sebanyak 95 orang.

Demikian juga jika dibandingkan dengan Selasa 20 Juli sebanyak 268 orang atau Senin 19 Juli sebanyak 250 orang kasus kematian pasien corona di DKI pada Jumat (23/7) lebih sedikit.


Analisis Sosiologis

Berdasarkan data covid-19 yang dikemukakan di atas, dapat disampaikan analisis sebagai berikut:

Pertama, data Covid-19 secara nasional yang dirilis kementerian Kesehatan RI, belum bisa disebutkan bahwa rakyat sudah aman dari bahaya covid. Ada tren melandai, tetapi tidak signifikan. Bahkan jika benar dugaan bahwa mulai melandai jumlah positif Covid-19 karena testing diturunkan, pertanda tidak baik bagi rakyat.

Bahkan bisa merupakan berita buruk karena belum aman bagi rakyat sebab potensi untuk terpapar Covid-19 sangat besar. Selain itu, banyak yang memilih isolasi mandiri (isoman) karena berbagai sebab seperti rumah sakit sudah penuh, sehingga jumlah mereka tidak terekam, berapa jumlah mereka yang positif, sembuh, dan meninggal dunia.

Kedua, yang terpapar Covid-19 juga anak-anak. informasi yang muncul dari berbagai pihak menyebutkan bahwa mereka yang terpapar Covid-19 bukan saja yang sudah dewasa, dan tua, tetapi anak-anak. Secara sosiologis cukup memprihatinkan karena mengancam masa depan bangsa dan negara sebab anak-anak adalah masa depan Indonesia.

Ketiga, data dari Kementerian Kesehatan RI tentang jumlah yang positif covid, sembuh dan meninggal dunia di DKI Jakarta, walaupun beberapa hari lalu menunjukkan penurunan jumlah positif covid, meningkat jumlah yang sembuh dan turun jumlah yang meninggal dunia, tetapi belum aman dan belum bisa dikatakan Covid-19 di DKI Jakarta sudah terkendali. Masih terjadi fluktuasi tiap hari jumlah yang positif covid, dan meninggal dunia.

Kolaborasi Atasi Covid-19

Wabah Covid-19 yang melanda Indonesia dan DKI Jakarta pada khususnya, harus dilawan bersama. Maka, dalam melawan covid, saya luncurkan jargon “Dari Rakyat Oleh Rakyat Untuk Rakyat.” Covid-19 tidak bisa diatasi jika rakyat tidak terlibat secara aktif dengan disiplin 3 M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan).

Melalui kolaborasi, yakin rakyat Indonesia dan warga DKI Jakarta dapat atasi Covid-19 yang semakin berbahaya.

Sebagai warga DKI Jakarta patut bersyukur atas prestasi yang dicapai, mulai dari Gubernur Anies, Wagub Ariza, seluruh jajaran pemprov. DKI Jakarta, teristimewa para tenaga kesehatan yang berjibaku menolong mereka yang terpapar Covid-19 dalam melawan covid.

Akan tetapi secara sosiologis, warga DKI Jakarta belum bisa dikatakan aman dari serangan covid. Masih diperlukan partisipasi dan kolaborasi untuk menuntaskan covid. Ini sangat penting karena rumah sakit masih sangat banyak didatangi warga yang terpapar covid. Dampaknya para tenaga kesehatan masih kelabakan merawat pasien Covid-19 yang masih banyak jumlahnya.

Disamping itu, warga yang terpapar Covid-19 yang isolasi mandiri (Isoman) belum dapat termonitor (misalnya: melalui swadaya masyarakat).

Dalam upaya meningkatkan pengetatan dan pengurangan secara signifikan jumlah warga yang terpapar covid, diperlukan terus dilaksanakan testing dan tracing agar dapat dilihat sumber penyebaran covid.

Terakhir, diperlukan kolaborasi dengan pemilik media dan para wartawan, pegiat media sosial, ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta para cendekiawan untuk melakukan kampanye besar-besaran untuk edukasi masyarakat agar bersama-sama dengan penuh kesadaran untuk berkolaborasi mengatasi Covid-19.

Kampanye atasi Covid-19: Dari, Oleh dan untuk Rakyat, pada dasarnya rakyat butuh kampanye secara real untuk mengatasi Covid-19, baik dari 5M dan kampanye penyuluhan pasien isoman. Bukan kampanye pencitraan.

Baca Juga

DKI Jakarta

Pertama kita bersyukur kepada Allah karena pandemi Covid-19 di DKI Jakarta dapat dikatakan sudah terkendali. Walaupun begitu, warga DKI Jakarta harus waspada dan ekstra...

DKI Jakarta

Penurunan kualitas demokrasi Indonesia, yang berhubungan dengan berlanjutnya represi atas oposisi, yang semakin bertambah dan terang-terangan.

DKI Jakarta

Dalam negara yang multi kultural, multi etnis, dan agama, apalagi dalam negara demokrasi, sangat wajar kalau kubu yang berbeda. Di dalam perbedaan, pasti banyak...

DKI Jakarta

Kebon Sirih tempat berkantornya anggota DPRD DKI Jakarta dibanjiri karangan bunga untuk dukungan interpelasi dari PDIP-PSI terhadap Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

DKI Jakarta

Pertama kita panjatkan puji syukur kepada Allah karena pandemi Covid-19 di Indonesia semakin hari semakin bisa dikendalikan. Begitu pula Covid-19 di Jakarta.

DKI Jakarta

Suhu politik di DKI Jakarta, Ibukota negara Republik Indonesia memanas, setelah 2 Fraksi secara resmi mengajukan interpelasi kepada Gubernur Anies Baswedan menyangkut Formula E.

DKI Jakarta

Dalam 4 tahun terakhir perencanaan dan pembangunan tata kota Jakarta dilakukan dengan memperhatikan lingkungan yang sehat dan asri.

DKI Jakarta

Jembatan layang (Skybrigde) MRT ASEAN-Halte Transjakarta CSW sudah selesai dibangun. Alhamdulillah sudah mulai banyak warga yang berkunjung ke tempat tersebut untuk menyaksikan keindahannya sekaligus...