Connect with us

Prof. Dr. Muchlis R. Luddin, MA di Aula Gedung Bung Hatta pada peluncuran aplikasi SIPERMAWA (14/8/2018) - twitter UNJ_Official

In Memoriam

In Memoriam Prof. Dr. Muchlis R. Luddin, MA Sahabat Seperjuangan Yang Baik Hati

Saya amat terkejut membaca ucapan duka cita yang disampaikan Majelis Nasional KAHMI di media sosial atas wafatnya Prof.Dr. Muchlis R. Luddin, MA.

Tidak ada kata yang patut saya ucapkan kecuali

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“ Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).” (QS. An-Nuur: 42)

Sebagai sahabat seperjuangan saya merasa sangat sedih dan kehilangan ketika membaca di media sosial bahwa Prof. Dr. Muchlis R. Luddin, MA telah wafat Kamis, 29 Juli 2021.

Walaupun kami bersahabat, tetapi sejak Covid-19 menerjang Indonesia awal Maret 2020, saya tidak pernah berjumpa dan juga tidak pernah berhubungan melalui telepon atau media sosial dengan Prof. Dr. Muchlis R. Luddin, MA.

Sebabnya karena saya tahu beliau sibuk lantaran menjadi Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Saya amat terkejut membaca ucapan duka cita yang disampaikan Majelis Nasional KAHMI di media sosial atas wafatnya Prof.Dr. Muchlis R. Luddin, MA.

Sahabat Seperjuangan

Sejak mahasiswa kami sama-sama aktif di HMI. Sejak itu kami bersahabat. Beliau setelah menyelesaikan pendidikan S1 di IKIP Jakarta (sekarang UNJ) melanjutkan pendidikan S2 dan menjadi dosen di UNJ dengan status PNS/ASN. Kemudian mengambil program S3 bidang sosiologi di Universitas Indonesia (UI).

Karena ketekunannya, Prof. Dr. Muchlis R. Luddin, MA akhirnya meraih Guru Besar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Karir beliau terus menanjak, menjadi Atase Pendidikan di Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur. Pada saat beliau menjadi Atase Pendidikan di Kuala Lumpur, bersamaan saya sedang mengambil program Doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Kenangan tidak terlupakan, saya sering main di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur dan ketika bertemu, saya selalu diajak makan bareng dan setiap mau pulang ke UKM saya diminta untuk ambil buah-buahan di ruangannya dan membawanya di asrama.

Kenangan lain, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Malaysia pada suatu saat mengundang Atase Pendidikan Indonesia untuk berceramah di UKM dihadapan PPI di Universiti Kebangsaan saya ikut hadir. Beliau memperkenalkan saya sebagai sahabatnya di hadapan Mahasiswa (i) yang berhimpun di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Ketika Prof Muchlis mau pulang, saya ikut antar ke mobil dinasnya. Saya kagum sekali sekelas Atase Pendidikan menumpang mobil mewah, sehingga saat itu saya menerawang kalau mobil Duta Besar RI di Kuala Lumpur bagaimana mewahnya?

Wakil Rektor Bidang Akademik

Setelah Prof Muchlis menyelesaikan masa baktinya sebagai Atase Pendidikan di Kuala Lumpur, dia kembali ke Indonesia, kemudian menjadi Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Negeri Jakarta.

Pada saat saya menjadi Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, saya beberapa kali ke UNJ dengan jalan kaki dari UIC dan bertemu Prof. Muchlis. Saya hanya telepon kalau Prof Muchlis ada di UNJ saya ke UNJ dan suka diskusi masalah pendidikan, sosial dan politik. Beliau sosiolog dan saya juga sosiolog, jadi pembicaraan kami selalu nyambung dan biasa berlangsung lama.

Menjadi Inspektur Jenderal

Setelah Prof Muchlis dilantik menjadi Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, kami jarang bertemu dan berdiskusi.

Pada suatu saat saya undang Prof Muchlis untuk membahas masalah pendidikan dalam diskusi terbatas Fordis ICS KAHMI yang saya pimpin, beliau bersedia, tetapi pada hari pelaksanaan diskusi, dia telepon saya meminta maaf karena masih di daerah. Diskusi tetap dilaksanakan dan saya kemudian menjadi narasumber untuk menggantikan Prof. Muchlis yang berhalangan.

Merasa Kehilangan

Bangsa Indonesia, khususnya keluarga besar alumni HMI yang berhimpun di KAHMI sangat merasa kehilangan atas wafatnya Prof. Dr. Muchlis R. Luddin, MA.

Prof Muchlis bukan saja sahabat, tetapi ilmuan, birokrat, dan pejuang umat, bangsa dan negara yang tidak sering muncul pandangan kritisnya terhadap masyarakat, bangsa dan negara, karena terikat pada aturan birokrasi, tetapi pemikiran, pandangan dan analisisnya terhadap Indonesia sangat baik dan masih jauh dari yang diharapkan.

Akhirnya, kita menghantarkan kepergian Prof Dr Muchlis R. Luddin, MA ke tempat peristirahatannya, dengan doa semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah, dosa-dosanya diampuni dan insya Allah masuk surga bersama para Nabi, para sahabat Nabi, ulama, para Wali Allah dan orang-orang saleh. Selamat jalan sahabatku menghadap Ilahi Rabbi. Semoga Allah mempertemukan kita di Surga. Aamiin.

Baca Juga

In Memoriam

Sebagai aktivis mahasiswa yang mengenal dari dekat Pak Harmoko, saya mengatakan bahwa beliau hebat. Kalau membaca kata sambutan yang telah disiapkan, beliau sangat menghayati...

In Memoriam

Ustaz Nawir, ustaz Abdul Salam dan ustaz Muhiddin adalah alumni Pondok Pesantren Al Khairat, Palu, Sulawesi Tengah. Saya mengajak ketiga ustaz tersebut bersama tokoh...

In Memoriam

Kepergian Artidjo Alkostar menyedihkan kita semua, karena kita kehilangan seorang tokoh yang gigih menegakkan keadilan dan kebenaran pada saat dia menjadi hakim agung RI.

In Memoriam

Letnan Jenderal TNI Purn Prof Dr Syarifuddin Tippe, M.Si, yang wafat pada 14 Februari 2021 karena sakit dalam usia 67 tahun. Civitas Universitas Ibnu...

In Memoriam

Tidak ada kata dan kalimat yang patut kita ucapkan selain Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un (Sesungguhnya kita milik Allah dan kepadaNya kita kembali)...

In Memoriam

Saya amat terkejut membaca di media sosial bahwa Ustaz Syekh Ali Jaber meninggal dunia.

In Memoriam

Tidak ada yang mengira Muhammad Suaib Didu, yang baru berumur 55 tahun meninggal dunia begitu cepat karena beberapa waktu lalu, ditemani Dr. Muhammad Sulhan,...

In Memoriam

Prof Dr H Beddu Amang, MA yang lahir di Ujung Pandang, 7 Agustus 1936 – meninggal 9 Januari 2021 dalam umur 84 tahun) adalah...