Connect with us

Ukiran kayu bendera Afghanistan di Kabul - unsplash the raven

Politik

Analisis Sosiologis: Kenapa Taliban Cepat Rebut Kota-kota di Afghanistan?

Sejak Taliban merebut kota di Afghanistan, kota Zaranj ibukota Nimroz pada hari Jum’at, 6 Agustus 2021, pejuang Taliban terus menerus melakukan penaklukkan kota dari berbagai ibukota provinsi.

Amerika Serikat dan NATO selama 20 tahun di Afghanistan, telah membantu terbentuknya tentara nasional dan polisi nasional Afghanistan. Tidak hanya negara adidaya itu membantu terbentuknya tentara nasional dan polisi nasional Afghanistan, tetapi juga melatih dan mendanai mereka selama puluhan tahun.

Berkat bantuan Amerika Serikat dan NATO, terbentuklah tentara nasional Afghanistan dengan kekuatan sebanyak 307 ribu orang serta pasukan khusus.

Dengan kekuatan angkatan bersenjata sebesar itu, sangat wajar kalau Amerika Serikat dan NATO, merasa yakin tentara nasional Afghanistan mampu menghadapi Taliban.

Selain jumlah tentara nasional lebih banyak ketimbang Taliban yang diperkirakan hanya memiliki pejuanh sekitar 55.000 sampai 85.000 orang, juga tentara nasional Afghanistan dipersenjatai dengan berbagai persenjataan modern, panser, dan pesawat tempur.

Sementara Taliban tidak memiliki panser, pesawat tempur dan berbagai persenjataan modern seperti yang dimiliki tentara nasional Afghanistan. Senjata yang diandalkan pejuang Taliban adalah granat berpeluncur roket (RPG), AK 47 dan lain-lain.

Selain itu, pasukan nasional Afghanistan diberikan dana oleh Amerika Serikat dan NATO dalam jumlah yang memadai, sementara Taliban tidak tersedia anggaran yang memadai untuk membiayai perjuangan mereka.

Kalah di Berbagai Medan Perang

Dari tiga aspek yang dikemukakan yaitu jumlah personil angkatan bersenjata Afghanistan, peralatan tempur modern yang dimiliki serta anggaran angkatan bersenjata Afghanistan, tidak masuk akal mereka kalah dalam berbagai medan pertempuran untuk mempertahankan ibukota provinsi.

Sebagai gambaran, sejak Taliban merebut kota Zaranj ibukota Nimroz pada hari Jum’at, 6 Agustus 2021, pejuang Taliban terus menerus melakukan penaklukkan kota dari berbagai ibukota provinsi. Sampai tanggal 14 Agustus 2021, Taliban telah menaklukkan 15 ibukota provinsi dari 34 provinsi di Afghanistan.

Kemenangan secara dramatis diraih Taliban dalam menaklukkan Kandahar, kota terbesar ke-2, Herat, kota terbesar ke-3 dan Mazar-i-Sharif, kota terbesar ke-4 di Afghanistan.

Mengapa Terus Kalah?

Para jenderal Amerika dan Inggris mengklaim telah membentuk tentara Afghanistan yang lebih kuat dan cakap.

Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa tentara Afghanistan sangat lemah dan tidak kuat menghadapi Taliban.

Pertanyaannya, mengapa tentara Afghanistan tidak mampu menghadapi Taliban, yang di atas kertas unggul jauh dan lebih hebat dibanding Taliban.

Menurut saya, setidaknya ada lima aspek yang dimiliki pejuang Taliban, yang tidak dimiliki tentara Afghanistan.

Pertama, spirit jihad atau semangat kejuangan yang dimiliki dan dihayati para pejuang Taliban. Sementara tentara Afghanistan sama sekali tidak memiliki spirit jihad.

Kedua, keberanian (syaja’ah) sebagai hasil dari spirit jihad sangat diamalkan para pejuang Taliban. Sebaliknya tentara Afghanistan walaupun dalam segala aspek unggul, tetapi tidak memiliki keberanian dalam berperang.

Ketiga, rela syahid. Buah dari spirit Jihad atau ruhul jihad telah menghadirkan keberanian (syaja’ah) para pejuang Taliban dalam berperang melawan musuh. Dalam berperang mereka tidak takut mati, karena mereka berkeyakinan kalau mati dalam berjuang, mereka akan masuk surga.

Keempat, pasukan asing di Afghanistan mereka anggap sebagai musuh, dan pemerintahan Afghanistan sekarang adalah pemerintahan boneka yang harus disingkirkan.

Kelima, gerak cepat. Pejuang Taliban bergerak dengan sangat cepat karena mereka memanfaatkan kesempatan emas yang bisa jadi tidak akan pernah ada lagi kedepannya.

Oleh karena itu, selama 20 tahun berperang melawan pasukan Amerika Serikat dan NATO, serta sekarang melawan tentara Afghanistan, mereka tidak pernah takluk, mereka kuat, solid dan bersatu.

Baca Juga

Politik

MBS dan Macron berusaha mencari jalan keluar dari krisis energi dan kelangkaan pangan. Macron mendesak Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyaknya guna membantu menurunkan...

Politik

Geopolitik sedang berubah khususnya di Timur Tengah. Kekuatan politik Timur Tengah tidak lagi sepenuhnya di dominasi oleh Amerika Serikat. Akankan kekuatan politik Timur Tengah...

Politik

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Arab Saudi untuk bertemu dengan raja Salman bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Kita...

Politik

Bangsa Indonesia bersama bangsa Palestina melawan kekejaman dan penindasan tersebut tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk mewujudkan perdamaian dunia. Indonesia bersama palestina demi...

Opini

Umat Islam yang mayoritas, terus tidak berdaya dan semakin diperparah keadaan mereka karena tidak bersatu umat Islam dipecah belah, sehingga tidak pernah memegang kekuasaan...

Pendidikan

Menurut saya, berpolitik merupakan bagian dari jihad (perjuangan) yang harus aktif dilakukan umat Islam untuk mewujudkan tujuan Indonesia merdeka sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan...

Opini

Tidak sedikit yang akhirnya menjilat karena tidak tahan mengalami demoralisasi. Ada juga yang kemudian memilih diam.

Opini

Ajakan Mardani Ali Sera, anggota DPR RI dari PKS yang juga Ketua DPP PKS adalah sah untuk bekerjasama dengan sosok yang memiliki integritas.