Connect with us

Ikatan Dokter Indonesia menyatakan turut berduka cita atas kejadian kekerasan yang menimpa tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok, Kab. Pegunungan Bintang, Papua (19/9/2021) - twitter PBIDI

Opini

Kisah Tragis Nakes Wanita di Papua: Dimanakah Perdamaian dan Keadilan Sosial?

Nakes adalah penolong, yang siap menolong dan membantu yang terluka dalam perang atau yang mengalami kecelakaan.

Nakes (Tenaga kesehatan), apakah dokter atau perawat adalah pekerja kemanusiaan yang siap menolong mereka yang terluka, tidak pandang bulu apakah TNI-Polri, KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) atau rakyat, pasti ditolong jika terluka dan mengalami masalah dalam kesehatan.

Oleh karena itu, mereka wajib dilindungi oleh kedua belah pihak yang berperang. Mereka tidak boleh dilecehkan apa lagi dibunuh. Mereka adalah penolong, yang siap menolong dan membantu yang terluka dalam perang atau yang mengalami kecelakaan.

Selain itu, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau Rumah Sakit serta segala peralatan medis harus aman dari pengrusakan oleh mereka yang berperang. Maka, kita amat prihatin dan mengecam keras pelecehan dan pembunuhan terhadap tenaga kesehatan apalagi membakar fasilitas umum seperti Puskesmas di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Kisah Tragis Nakes Wanita di Papua

Kita sangat sedih dan mengecam keras atas aksi biadab KKB di Papua usai membakar Puskesmas di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Para nakes wanita yang melarikan diri ditendang ke jurang lalu dilecehkan hingga tewas.

Aksi biadab anggota KKB tersebut diungkapkan oleh seorang tenaga kesehatan (nakes) yang berhasil selamat, Marselinus Ola Attanila. Dia bersama 8 nakes lainnya telah tiba di Jayapura pada Jumat pagi (17/9/2021), usai dievakuasi menggunakan helikopter TNI.

Marselinus, petugas kesehatan di pegunungan bintang mengungkapkan: “Kami tidak pernah terpikir kalau akan terjadi penyerangan terhadap kami (Nakes) sehingga kami diam tenang,” ujarnya ketika mengawali kisahnya, saat ditemui wartawan di Lapangan Makodam XVII Cenderawasih, Jayapura.

Semua bermula pada Senin (13/9), dimana pada pukul 07.00 WIT para nakes yang tengah bertugas di Puskesmas Kiwirok mendapat informasi dari masyarakat bahwa para KKB akan menyerang TNI-Polri. Saat itu para nakes diminta tetap tenang dan bersiaga untuk langsung memberi perawatan korban luka dari penyerangan itu.

Pada pukul 09.00 WIT baku tembak antara TNI-Polri dengan KKB mulai terjadi, sementara para nakes tetap bersiaga di puskesmas.

“Jadi kami nakes tidak berpikir takut karena sudah ada pernyataan KKB untuk membantu mereka kalau ada yang terluka saat terjadi kontak tembak dengan TNI,” ungkap Marselinus.

Tapi, pernyataan KKB yang sebelumnya menjamin keamanan nakes ternyata hanya bohong belaka. Pada sekitar pukul 09.05 WIT anggota KKB langsung menyerang Puskesmas. Kaca-kaca dipecahkan dan langsung disiram bensin lalu dibakar.

“Pada pukul 9.10 WIT mereka semakin brutal, mereka masuk ke dalam barak dokter dan menyerang petugas, sehingga para nakes memilih keluar dari barak dokter secara kocar-kacir,” ungkap Marselinus.

Melihat para nakes melarikan diri dari puskesmas yang terbakar, anggota KKB langsung mengejar mereka.

“(Nakes) Lukas bersama Suster Siti, Dokter Geral lari kearah Mado lalu dihadang KKB dan dipukuli dengan balok kemudian digiring ke jurang dan ditendang jatuh ke jurang,” imbuhnya.

Sementara itu, Marselinus bersama 3 rekan wanitanya yang juga nakes berlari dari puskesmas menuju rumah warga. Namun KKB yang memegang senjata semakin dekat dengan mereka.

“Akhirnya kami lari ke belakang rumah (warga), tetapi terdapat jurang yang cukup terjal dengan kedalaman 500 meter, saya mengajak ketiga suster untuk melompat ke jurang dan saya lebih dulu melompat, kemudian di susul 3 suster,” kata Marselinus.

Marselinus bersama 3 nakes wanita lainnya awalnya sudah merasa aman saat berada di dalam jurang. Namun ternyata para KKB tetap mengejar mereka dengan langsung turun ke dalam jurang.

“Ternyata mereka mengejar kami ke bawah, sehingga pertama ketemu suster (inisial) A, kemudian menangkap suster (inisial) G, kemudian menangkap suster (inisial) K. Saya sendiri tidak didapat mereka karena sembunyi di antara tebing dan akar-akar,” ungkapnya.

“Kemudian ketiga suster ini ditelanjangi dengan cara merobek pakaiannya dengan parang. Setelah ditelanjangi kemudian dianiaya secara tidak manusiawi. Paha mereka ditikam, muka ditonjok, dan pelecehan seksual hingga pingsan. Akhirnya ditinggalkan, karena mungkin dikira sudah mati, sehingga didorong lagi ke dalam jurang yang lebih dalam sekitar 300 meter.”

“Demikian juga dokter Geral Sukoi di dorong ke jurang dan hingga saat ini belum ditemukan. Kami berada dalam jurang selama 3 hari dan pelan-pelan kemudian naik ke atas dan ditemukan anggota TNI dan satu persatu dari Nakes bisa terselamatkan oleh TNI (Detik.com, Jumat, 17 Sep. 2021 13:37 WIB).

Biadab dan Tidak Memiliki Perikemanusiaan

Tindakan yang dilakukan para KKB di Pegunungan Bintang, sangat biadab dan tidak memiliki perikemanusiaan.

Sejatinya mereka melindungi para tenaga kesehatan. Kalau dalam kontak senjata, mereka terluka, maka mereka bisa diobati oleh nakes secara gratis demi kemanusiaan.

Kalau fasilitas pendidikan dan kesehatan dibakar, para pendidik serta nakes dilecehkan atau dibunuh, maka mereka akan kehilangan simpati dan empati dari rakyat.

Pada hal dalam perang gerilya, para petempur amat penting memperoleh simpati dari rakyat. Kalau rakyat simpati kepada mereka, maka mereka akan dilindungi, dibela, dan dibantu oleh rakyat.

Untuk mendapatkan simpati, empati dan dukungan rakyat, mereka tidak boleh menyakiti rakyat. Mereka harus mengambil hati rakyat, dengan tidak melakukan tindakan yang akan menghilangkan simpati, empati dan dukungan rakyat.

Tindakan yang dilakukan para KKB di Pegunungan Bintang, sungguh merugikan perjuangan mereka. Sebaliknya TNI-Polri mendapatkan simpati dari rakyat.

Semoga di bumi Papua segera hadir perdamaian dan keadilan sosial sebagai prasyarat utama terciptanya persatuan dan kesatuan di negara kesatuan republik Indonesia.

Baca Juga

Covid-19

Pada 22 Juli 2021, saya dan Arteria Dahlan, Anggota DPR RI dari PDIP berdiskusi tentang Covid yang gonta-ganti namanya dan tidak kunjung selesai. Karni...

Covid-19

Setelah Covid-19 menghantam Indonesia mulai Maret 2020 sampai Juli 2021, nampaknya skala prioritas yang super urgent ialah penyelamatan nyawa dengan high priority pada kesehatan...

Covid-19

PPKM Darurat sejatinya menyadarkan pemerintah bahwa dalam rangka melindungi segenap bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945 yang merupakan salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia....

Opini

Menurut Natalius Pigai, negara wajib mencari bukti dugaan pelanggaran HAM berat terhadap tewasnya enam laskar FPI.

Opini

Pada 1 Desember 2020, Benny Wenda telah deklarasi kemerdekaan Papua dan Papua Barat oleh Gerakan Persatuan Pembebasan Papua Barat atau The United Liberation Movement...

Covid-19

Hampir setiap hari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengumumkan di media sosial anggota mereka yang meninggal dunia.

Politik

Presiden Jokowi di akhir pemerintahannya periode pertama, menghadapi banyak sekali masalah, diantaranya demo mahasiswa yang amat besar karena diikuti mahasiswa dari seluruh kampus di...

Sosial

Pembangunan Papua termasuk Trans Papua, tidak mengubah nasib hidup masyarakat Papua. Walaupun Papua merupakan bagian dari indonesia, mereka tetap miskin dan kurang fasilitas seperti...