Connect with us

Ka'bah di malam hari (17/12/2017) - unsplash Izuddin Helmi Adnan

Opini

Korupsi Dana Pembangunan Masjid, Dana Haji Hingga Dana Cetak Al-Quran: Mengapa Terjadi?

Asal ada peluang, korupsi dilakukan. Dana pembangunan masjid, dana haji, serta dana untuk percetakan Al-Quran yang dianggap sakral dikorupsi.

Saya amat kaget dan sangat sedih ketika membaca berita di media online bahwa dana pembangunan Masjid Sriwijaya dikorupsi.

Dugaan korupsi dana pembangunan masjid Sriwijaya, telah menyeret Alex Noerdin, Anggota DPR RI dan mantan Gubernur Sumatera Selatan dua periode, sehingga KPK menetapkan sebagai tersangka korupsi.

Korupsi dana proyek pembangunan Masjid, sangat memalukan karena para koruptor tidak lagi memilih sasaran yang akan dikorupsi. Asal ada peluang yang bisa dikorupsi, disikat.

Dampak negatifnya, pembangunan Masjid Sriwijaya yang sudah dikucurkan dananya sebesar 130 milyar terbengkalai. Dana sebesar itu, tergolong besar dan seharusnya pembangunan Masjid Sriwijaya sudah rampung.

Dana Pembangunan Masjid di Korupsi

Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia. Akan tetapi, tidak diwajibkan kepada orang-orang Muslim untuk mengamalkan ajaran agamanya terutama prinsip-prinsip kejujuran dan kebenaran.

Dampaknya, walaupun Indonesia dikenal sebagai negeri Muslim yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius, tetapi tidak menyatu ketaatan beragama, beriringan dengan ketaatan dalam mengamalkan prinsip-prinsip kejujuran dan kebenaran, yang mengharamkan secara total untuk berbuat tidak jujur, tidak benar, tidak adil dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dampak negatifnya luar biasa, korupsi merajalela, tidak pilih-pilih yang mau dikorupsi. Asal ada peluang, korupsi dilakukan. Dana pembangunan masjid, dana haji, serta dana untuk percetakan Al-Quran yang dianggap sakral dikorupsi.

Sebagaimana diketahui, kasus korupsi terbaru yang melibatkan mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin sangat menghebohkan. Bagaimana tidak, dana yang sejatinya diperuntukkan untuk membiayai pembangunan Masjid Sriwijaya di Palembang, justru dikorupsi. Akibatnya, pembangunan Masjid yang telah dikucurkan dana sebesar Rp 130 milyar belum rampung.

Dana Haji di Korupsi

Masih segar dalam ingatan, korupsi yang dilakukan dalam penyelenggaraan ibadah haji dan menyalahgunakan dana operasional menteri (DOM). Kasus ini sangat menyedihkan karena melibatkan Menteri Agama Suryadharma Ali.

Sejatinya, Menteri Agama menjaga marwah kementerian yang dipimpin, sehingga bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), justru terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji dan menyalahgunakan DOM. Suryadharma juga terbukti menyelewengkan dana operasional menteri sebesar Rp 1,8 miliar, sehingga divonis penjara 10 tahun.

Korupsi Al-Qur’an

Korupsi tidak hanya terbatas terhadap dana pembangunan Masjid dan dana haji yang dengan susah payah setiap Muslim dan Muslimat yang ingin menunaikan ibadah haji, mereka menabung sedikit demi sedikit, tetapi sangat memalukan dan tidak bisa ditolerir, ikut dikorupsi. Lebih menyedihkan lagi, kasus korupsi pengadaan Al-Quran 2011-2012 dan pengadaan laboratorium komputer Madrasah Stanawiyah Kementerian Agama, ikut dikorupsi.

Kasus korupsi pengadaan Al-Qur’an melibatkan politikus Golkar Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq. Fahd terbukti menerima hadiah dari tiga pengerjaan proyek di Kementerian Agama tahun anggaran 2011-2012 sebesar Rp 3,411 miliar.

Korupsi di bidang agama yang dianggap sakral, sangat ironi dan amat menyedihkan dan memalukan karena terjadi di negeri yang dikenal religius.

Tidak Kenal Batas: Cara Mengakhiri?

Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM, Zaenur Rohman menjelaskan korupsi merupakan kejahatan yang tidak mengenal batas. Sebab, motif utama dari korupsi ialah memperkaya diri.

“Tindak pidana korupsi tidak mengenal batas, karena bermotif ekonomi untuk memperkaya diri, dilakukan secara sadar oleh pihak yang memiliki kekuasaan,” kata Zaenur saat dihubungi, Kamis (23/9/2021).

Dengan motif seperti ini, tindak pidana korupsi kadang melampaui batas-batas kemanusiaan. Inilah sebabnya mengapa dana proyek kitab suci, dana haji, tanah pemakaman hingga terbaru kasus dana proyek pembangunan Masjid Sriwijaya ikut dikorupsi.

“Nah objek yang dikorupsi itu tidak ada batasnya. Kadang-kadang sampai jadi pertanyaan karena melampaui batas-batas kemanusiaan. Seperti korupsi dana bantuan bencana alam, korupsi bansos, korupsi pencetakan kitab suci, korupsi dana ibadah haji, korupsi tanah pemakaman, termasuk saat yang jadi kasus untuk pembangunan masjid.”

Menurutnya, korupsi berbeda dengan kejahatan lain. Sebab, pelaku kejahatan lain terkadang masing mempertimbangkan soal karma dari hal-hal yang disakralkan.

Pertanyaannya, bagaimana mengakhiri korupsi? Inilah pertanyaannya yang tidak mudah dijawab. Akan tetapi, prinsip dasar yang sangat penting dilakukan bahwa korupsi dalam bidang apapun mutlak diakhiri apalagi korupsi dalam bidang agama yang dianggap sakral.

Menurut saya, untuk menghentikan korupsi dalam segala bidang harus dilakukan lima hal. Pertama, menanamkan secara kepada anak-anak di rumah agar jujur dan benar dalam hidup. Anak yang memegang prinsip kejujuran dan kebenaran sejak kecil sampai besar otomatis tidak akan menolerir perbuatan korupsi jika diberi amanah memegang kekuasaan.

Kedua, memberikan pendidikan anti korupsi di sekolah. Jika ini diajarkan disekolah kemudian dipraktikkan disemua jenjang pendidikan, maka lambat laun korupsi di Indonesia akan berkurang.

Ketiga, orang tua, pemimpin sekolah atau perguruan tinggi, guru, dosen di lingkungan semua jenjang pendidikan harus dipraktikkan dan dibudayakan bebas korupsi.

Keempat, semua pemimpin mulai dari Presiden sampai di tingkat paling bawah yaitu Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) harus menjadi role model dan memberi contoh dalam pengamalan kejujuran dan kebenaran.

Kelima, penegakan hukum harus keras kepada para koruptor. Hukuman seumur hidup kepada para pejabat harus diberlakukan agar ada efek jera supaya dalam memimpin di eksekutif, legislatif dan yudikatif ekstra hati-hati, tidak korupsi.

Baca Juga

Opini

Saya merasa sangat prihatin atas pemecatan 56 pegawai KPK yang dikenal publik sebagai penyidik handal yang banyak meringkus koruptor pejabat negara dan para penjahat...

Opini

Sebanyak 73 Guru Besar yang tergabung dalam Koalisi Guru Besar Antikorupsi telah melayangkan surat kepada Presiden Jokowi terkait dengan polemik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK)...

Opini

Modal yang amat diperlukan KPK dalam memberantas korupsi, bukan dukungan dari eksekutif, legislatif dan yudikatif, tetapi rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Teman sejati dalam pemberantasan...

Pilkada

Denny Indrayana, Calon Gubernur Kalimantan Selatan dalam tulisannya berjudul Duitokrasi Membunuh Demokrasi yang dimuat secara luas di media sosial membeberkan dahsyatnya politik uang dalam...

DKI Jakarta

Kita sangat prihatin dan mengecam keras anak buah Anies diduga melakukan korupsi program Rumah DP 0 Rupiah yang digadang-gadang sebagai jalan keluar bagi hampir...

In Memoriam

Kepergian Artidjo Alkostar menyedihkan kita semua, karena kita kehilangan seorang tokoh yang gigih menegakkan keadilan dan kebenaran pada saat dia menjadi hakim agung RI.

Covid-19

Saya kemukakan tahun 2020 merupakan tahun kesedihan karena hampir semua negara di dunia termasuk Indonesia terpuruk ditengah ancaman corona.

Lainnya

Hari ini 9 Desember 2020 adalah Hari Antikorupsi Sedunia. Selain itu, tgl 8 Desember 2020 terjadi penembakan 6 laskar FPI yang mengawal Imam Besar...