Connect with us

Webinar Melawan Lupa Pemberontakan Komunis di Indonesia (G30S PKI) (2/10/2021) - twitter musniumar

Pendidikan

Soeharto Kalau Komunis: Indonesia Sudah Jadi Negara Komunis Terbesar di Dunia

Fakta sosiologis bahwa Soeharto memimpin penumpasan dan pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Dikemukakan dalam webinar yang bertajuk Melawan Lupa Pemberontakan Komunis di Indonesia (G30S PKI).

Musni Umar, rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta mengemukakan fakta sosiologis bahwa Soeharto memimpin penumpasan dan pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Mustahil Soeharto menumpas para tokoh dan kader PKI, pimpinan Ormas PKI seperti BTI, Gerwani, CGMNI, dan lain-lain, kalau Soeharto dalang pemberontakan G30S PKI. Hal tersebut dikemukakan dalam webinar yang bertajuk “Melawan Lupa Pemberontakan Komunis di Indonesia (G30S PKI).”

Seminar ini menghadirkan narasumber Prof Dr Husnan Bey Fananie, MA, Duta Besar RI di Azerbaijan 2016-2020, Mayjen TNI Purn. Kivlan Zen, Pakar Militer Indonesia, Dr. Abbas Thaha, Dekan FiSIP UIC/Eksponen 66, Prof. Musni Umar, Ph.D., Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Lebih lanjut Musni Umar mengemukakan bahwa Soeharto tidak menjadi sasaran penculikan oleh pimpinan G30S PKI karena Soeharto tidak menonjol anti PKI seperti Jenderal Abdul Haris Nasution, Jenderal Ahmad Yani dan lain-lain sehingga dianggap tidak berbahaya.

Sementara itu, Dr. Abbas Thaha, dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIC yang juga eksponen Angkatan 66 menegaskan: Soeharto kalau komunis, maka selama 5 periode berkuasa, Indonesia sudah menjadi negara komunis terbesar di dunia. Dia meminta kepada generasi milenial untuk mendalami sejarah dan belajar sepanjang masa.

Komunis Sangat Brutal

Sejarah mencatat, komunis sangat brutal (kejam) karena sama sekali tidak memiliki rasa kemanusiaan. Rela membantai siapapun yang dianggap lawan.

Musni Umar yang juga sosiolog mencatat kekejaman komunis di dunia sejak 1917-1991 di 76 negara, telah membunuh 120 juta manusia. Sebagai contoh:

1) Lenin berkuasa di masa Uni Sovyet 1917-1923 telah membunuh 500 ribu orang.
2) Joseph Stalin berkuasa 1925-1953, telah membunuh 46 juta orang.
3) Mao Tse Tung (RRC) yang berkuasa 1947-1976, telah membunuh sebanyak 50 juta orang.
4) Pol Pot (Kamboja) berkuasa 1975-1979 , telah membunuh sebanyak 2,5 juta orang.
5) Najibullah (Afghanistan) berkuasa 1978-1987 telah membunuh 1,5 juta orang.
6) Peristiwa Madiun 1948 yang dipimpin Muso. Memberontak selama 13 hari, PKI telah membunuh ulama, tokoh masyarakat, santri dan rakyat sebanyak 1.920 orang.
7) G30S tahun 1965, PKI telah membunuh secara kejam dan sadis 6 jenderal dan 1 orang perwira menengah TNI Angkatan Darat.

Sosiolog ini meminta kepada para mahasiswa untuk mempersiapkan diri dengan menimba ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya serta membuat barisan yang kuat dan kokoh untuk menggetarkan musuh Allah dan musuh kaum Muslim.

Berikut foto-foto kegiatan

Baca Juga

Pendidikan

Rocky Gerung, akademisi yang disebut para mahasiswa sebagai presiden akal sehat, dalam peluncuran buku karya Musni Umar yang diberi judul Maju Kotanya Bahagia Warganya.

Pendidikan

Mayjen TNI Purn Kivlan Zen menegaskan bahwa komunis sudah bangkit, komunis masuk di mana-mana menyusup ke kekuatan Bangsa Indonesia.

Pendidikan

Prof. Dr. Husnan Bey Fananie, MA, Duta Besar RI untuk Republik Azerbaijan 2016-2020 menegaskan jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan komunis.

Pendidikan

Dr Ubedilah Badrun, akademisi dan pengamat sosial politik mengatakan bahwa Republik ini akan maju kalau dibimbing dan dipimpin Ulul Albab (Orang yang selalu berzikir...

Pendidikan

Seminar internasional bertajuk Membangun Peradaban Islam Berbasis Masjid untuk memperingati 65 Tahun Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Pendidikan

Ekonomi rakyat atau juga dikenal dengan istilah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) merupakan sektor usaha yang paling terpuruk di era pandemi Covid-19. Hal tersebut...

Pendidikan

Seminar internasional Universitas Ibnu Chaldun yang bertema "Membangun Peradaban Islam Berbasis Masjid" pada 11 Februari 2021.

Pendidikan

Diskusi virtual dengan Dr. Sheikh Mas'oud, Cendekiawan Muslim Arab Saudi serta Sheikh Hilal Bahri dan Sheikh Marhum keduanya pengusaha, yang dipandu Hartono Subirto.