Connect with us

Ferry Mursyidan Baldan (27/7/2016) - twitter atr_bpn

Opini

Ferry Mursyidan Baldan: Rakyat Sangat Arif dan Adil Pergilirkan Kekuasaan

Sangat menarik pernyataan Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Agraria dan Tata Ruang (2014 – 2016) yang menyatakan bahwa rakyat sangat arif dan adil dalam mempergilirkan kekuasaan di Indonesia.

Masih jauh pemilihan Presiden Indonesia (tahun 2024), tetapi perbincangan mengenai calon Presiden Indonesia pasca Jokowi sudah ramai dibahas di publik. Berbagai survei dilakukan untuk mengetahui aspirasi rakyat siapa yang mereka kehendaki untuk memimpin Indonesia pasca Presiden Jokowi.

Bahkan relawan Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANIES) sudah melakukan deklarasi untuk mendukung Anies Baswedan menjadi calon Presiden 2024.

Mereka yang sedang berkuasa, sudah mulai dekat dan akrab calon Presiden yang diharapkan sebagai successor (penerus) pemerintahan Presiden Jokowi dari kalangan mereka.

Mengenai masalah tersebut sangat menarik pernyataan Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI (27 Oktober 2014 – 27 Juli 2016) yang menyatakan bahwa rakyat sangat arif dan adil dalam mempergilirkan kekuasaan di Indonesia.

Sejak Indonesia merdeka tidak pernah ada Presiden yang successor (penerusnya) dari kalangan yang disiapkan oleh seorang Presiden yang sedang berkuasa. Indonesia pernah dipimpin Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, SBY dan sekarang Joko Widodo.

Menurut Ferry Mursyidan Baldan yang pernah lama menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar, semua Presiden yang pernah memimpin Indonesia tidak pernah penerus kepemimpinannya yang disetting oleh Presiden yang sedang berkuasa.

Paradigma Berpikir Masyarakat

Paradigma berpikir masyarakat Indonesia seperti sudah terbangun lama, kalau sudah diberi kesempatan memimpin Indonesia, setelah berakhir masa baktinya, diberikan kepada yang lain.

Dalam sejarah politik Indonesia, dua Presiden Indonesia yaitu Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, cukup lama memimpin Indonesia, akhirnya melalui kekuatan massa dilengserkan ditengah jalan.

Dampaknya kekuasaan yang begitu lama digenggam, tidak bisa diteruskan atau dilanjutkan oleh penerusnya (successor).

Begitu pula Presiden BJ Habibie yang memerintah tidak lama, juga Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Soekarnoputri. Tidak terkecuali Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden yang diberi amanah oleh rakyat bukan successor, tetapi lawan politik yaitu Presiden Joko Widodo yang dicalonkan oleh PDIP.

Dengan demikian, sejak Indonesia merdeka belum pernah Presiden berikutnya dari tokoh yang dekat dan akrab oleh Presiden yang sedang berkuasa.

Kearifan Rakyat Dalam Berdemokrasi

Dalam demokrasi, sejatinya yang berkuasa adalah rakyat. Itu sebabnya sering dipopulerkan adagium bahwa kekuasaan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Akan tetapi, dalam realitas rakyat tidak lebih hanya sebagai alat. Pada saat pemilihan umum, rakyat dimobilisasi dalam kampanye sampai pada hari pemilihan umum, rakyat yang sudah memenuhi syarat dimobilisasi dengan segala macam cara termasuk melakukan politik uang dengan memberi uang kepada para pemilih supaya memilih calon Presiden-Wakil Presiden, memilih calon Kepala Daerah, calon anggota DPR RI, calon anggota DPD RI, calon anggota DPRD Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Akan tetapi, setelah mereka terpilih menjadi pemimpin eksekutif dan anggota legislatif, mereka asyik sendiri – lupa rakyat yang memberi kekuasaan kepada mereka.

Oleh karena itu, Presiden yang memegang kekuasaan eksekutif, begitu pula Kepala Daerah, setelah selesai masa baktinya di era reformasi paling lama 2 periode atau 10 tahun, rakyat sangat arif dan adil mempergilirkan kekuasaan kepada pihak lain.

Pergiliran Kekuasaan

Kekuasan secara lahiriah dalam demokrasi, yang memberi kekuasaan kepada seseorang adalah rakyat melalui pemilihan umum.

Akan tetapi menurut Al-qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 26, sejatinya yang memberi kekuasaan kepada seseorang adalah Allah, sesuai firmanNya yang artinya: “Katakanlah, wahai Muhammad, Tuhan adalah pemilik kekuasaan. Dia memberi kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mencabut kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia muliakan siapa yang Dia kehendaki dan hinakan siapa yang Dia kehendaki. Di tangan Dialah segala kebajikan.

Firman tersebut menegaskan bahwa kekuasaan pada hakikatnya yang memberi adalah Allah. Melalui pemilihan umum rakyat memilih seorang pemimpin. Pada hakikatnya yang menggerakkan hati rakyat untuk memilih seorang pemimpin (Presiden, Kepala Daerah) adalah Allah.

Maka, walaupun secara lahiriah nampak bahwa yang memilih seorang pemimpin adalah rakyat, tetapi berdasarkan firman Allah tersebut dan hal itu diyakini dan diimani oleh rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim, sejatinya yang memberi kekuasaan ialah Allah melalui tangan manusia yang menyoblos nama seorang calon Presiden atau Kepala Daerah.

Oleh karena itu, Allah pergilirkan kekuasaan kepada hambanya yang berjuang untuk menjadi Presiden atau Kepala Daerah melalui tangan rakyat yang memilih. Itu sebabnya siapapun yang mencalonkan atau dicalonkan menjadi Presiden atau Kepala Daerah, supaya selalu berdoa semoga Allah memberi kekuasaan melalui para hambanya yang menyoblos dalam pemilihan umum.

Baca Juga

Politik

Untuk hapus Presidential Threshold secara total tidaklah mudah, karena Presidential Threshold merupakan agenda partai-partai politik yang lolos di Senayan.

Politik

Partai Politik merupakan instrumen yang amat vital dalam negara demokrasi. Suka tidak suka dan mau tidak mau, umat Islam hidup dalam negara demokrasi harus...

Opini

Isu 3 periode bertambah ramai, setelah Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mewacanakan amandemen UUD. Sontak publik ribut sebab mereka mengaitkan wacana 3 periode dengan...

Pemilu

Partai Ummat yang dibidani kelahirannya oleh Prof Dr M. Amien Rais dideklarasikan pendiriannya pada 17 Ramadan 1442H 29 April 2021 di Yogyakarta. Partai ini...

Pemilu

Sejarah pemilihan umum (pemilu) tahun 2019 cukup mengenaskan karena kematian massal panitia pemilu sebanyak 894 petugas dan petugas lainnya yang sakit ada 5175 orang.

Lainnya

Sistem demokrasi tidak sempurna. Amerika Serikat sebagai kampiun demokrasi, telah menunjukkan boroknya.

Opini

Pada saat artikel ini ditulis , belum ada pengumuman resmi dari Panitia Pemilihan Umum Amerika Serikat bahwa Joe Biden dan Kamala Harris telah memenangi...

Opini

Pada 3 November 2020, rakyat Amerika Serikat akan datang ke berbagai tempat pemungutan suara (TPS) untuk menyoblos calon Presiden Amerika Serikat untuk 4 tahun...