Connect with us

hot air baloon dengan bendera turki - unsplash Oziel Gómez

Opini

Perkuat RI-Turki: Jalan Ataturk Jangan Rusak Hubungan Kedua Negara Muslim

Sekarang ini sangat ramai dan heboh perbincangan di media sosial tentang rencana memberi nama jalan Kemal Ataturk di Menteng Jakarta.

Hubungan rakyat di kawasan Nusantara sebelum Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, telah terjalin baik dengan rakyat Turki. Ada sejarawan yang menyebut bahwa hubungan rakyat kedua negara ini telah berlangsung sejak abad-15, pada masa kejayaan Daulah Ustmaniyah.

Hubungan bilateral antara Republik Indonesia dan Republik Turki dimulai tahun 1950. Hubungan diplomatik antara kedua negara ini sangat penting dipelihara dan dijaga. Pertama, karena sama-sama negara yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Kedua, Indonesia dan Turki merupakan dua negara yang mengamalkan demokrasi modern. Kedua negara berpenduduk mayoritas Muslim ini berperan sebagai contoh bahwa Islam dan demokrasi bisa bergandengan tangan dan hidup bersama untuk membangun bangsa dan negara.

Ketiga, hubungan diplomatik telah dibangun sejak 1950. Indonesia memiliki duta besar di Ankara dan Turki punya duta besar di Jakarta dan konsulat kehormatan di Medan sejak Mei 1996.

Keempat, Indonesia dan Turki merupakan anggota penuh World Trade Organization (WTO) dan Organization of Islamic Cooperation (OIC).

Kelima, Indonesia dan Turki merupakan anggota 8 Negara Berkembang dan anggota G 8 Ekonomi Utama di dunia.

Berdasarkan 5 point tersebut di atas, maka merupakan conditio sine quanon pentingnya memperkuat hubungan Republik Indonesia dengan Republik Turki.

Hubungan P-to-P

Hubungan antara masyarakat (People) Indonesia dengan masyarakat (People) Turki yang sering disebut People-to-People, begitu pula sebaliknya hubungan antara masyarakat Turki dengan masyarakat Indonesia sangat penting dijaga, dipelihara dan ditingkatkan.

Menurut saya, sangat banyak yang bisa dikembangkan dalam rangka hubungan people-to-people antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Turki, begitu pula sebaliknya.

Pertama, kerjasama dalam bidang pendidikan. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi, bisa dibangun kerjasama yang saling melengkapi dan memajukan dunia pendidikan di kedua negara. Bisa dimulai dengan saling berkunjung antara penyelenggara pendidikan yang dikelola pemerintah atau swasta, pertukaran pelajar, siswa dan mahasiswa.

Kedua, kerjasama dalam bidang penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Lembaga penelitian di kedua negara, misalnya di Indonesia yang dikelola pemerintah seperti LIPI, BPPT, BATAN yang telah dilebur ke dalam BRIN (Badan Riset Inovasi Nasional), maupun lembaga penelitian di perguruan tinggi, maupun BUMN bisa melakukan kerjasama dengan berbagai lembaga penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam rangka memajukan kedua negara Muslim.

Ketiga, kerjasama dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Masyarakat di kedua negara, melalui lembaga atau organisasi dunia usaha atau perseorangan bisa melakukan kerjasama untuk melakukan misalnya dalam bidang perdagangan. Para pengusaha yang bergerak di bidang ekspor-impor dapat berperan dalam melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan kedua negara.

Keempat, kerjasama dalam bidang pariwisata (tourism) dan investasi. Masyarakat Indonesia sangat ramai yang melakukan perjalanan wisata (tour) ke Turki. Sebelum Covid-19, luar biasa ramainya rakyat Indonesia yang ke Turki. Biasanya sebelum umrah ke Makkah dan Madinah, mereka ke Turki.

Kerjasama dalam bidang tourism (pelancongan-pariwisata) amat penting digalakkan dengan memperbanyak promosi, sehingga masyarakat Turki diharapkan semakin banyak yang melakukan perjalanan wisata ke Indonesia. Selain itu, mendorong peningkatan investasi di Indonesia dan Turki dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kerjasama G-to-G

Saya pikir kedua negara sudah melakukan kerjasama Government to Government (G-to-G) yaitu antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Turki. Akan tetapi, yang diperlukan sekarang adalah meningkatkan kerjasama ekonomi.

Dalam upaya meningkatkan kerjasama ekonomi antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Turki sedang dilakukan perundingan perjanjian kerja sama komprehensif (IT-CEPA) yang ditargetkan rampung pada 2021.

“Kami sepakat untuk melanjutkan perundingan Indonesia-Turki Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA), dengan harapan dapat selesai pada tahun 2021, sebagaimana dimandatkan oleh kedua pemimpin Indonesia dan Turki,” kata Retno usai menemui Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavusoglu di Kementerian Luar Negeri RI (Republika.co.id, 23/12/2021).

Indonesia dan Turki memulai perundingan IT-CEPA pada Januari 2018 di Jakarta, beberapa bulan setelah Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menggelar kunjungan kenegaraan ke Ankara pada Juli 2017. Sejauh ini, dua negara telah menyelesaikan perundingan IT-CEPA putaran keempat, yang berlangsung pada 30-31 Januari 2020 di Ankara, Turki.

Dalam pertemuan itu, delegasi dua negara membahas rencana pengurangan dan penghapusan tarif, serta berbagai isu terkait bea cukai, karantina barang, urusan hukum, fasilitas dan pengamanan perdagangan.

Bagi Indonesia dan Turki, IT-CEPA merupakan salah satu cara meningkatkan total nilai dagang yang saat ini masih dinilai belum optimal. Dalam kunjungannya ke Jakarta, Menlu Turki Çavusoglu menyebut total volume dagang antara dua negara baru mencapai 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp21,2 triliun).

“1,5 miliar dolar AS… masih jauh dari potensi kita sebenarnya,” kata Çavusoglu saat memberi keterangan usai menghadiri pertemuan bilateral di Jakarta.

Oleh karena itu, dua negara telah sepakat untuk meningkatkan total nilai dagang sampai 10 miliar dolar AS (sekitar Rp141,45 triliun) melalui perjanjian dagang komprehensif IT-CEPA dan berbagai kemitraan lainnya.

Dalam pertemuan bilateral di Jakarta, Çavusoglu menyampaikan Turki sepakat meningkatkan nilai investasi ke Indonesia. Perusahaan-perusahaan Turki tertarik berinvestasi ke Indonesia, meskipun di tengah situasi pandemi Covid-19.

Jangan Rusak Hubungan RI-Turki

Sekarang ini sangat ramai dan heboh perbincangan di media sosial tentang rencana memberi nama jalan Kemal Ataturk di Menteng Jakarta.

Saya termasuk yang menolak pemberian nama jalan Ataturk di Jakarta. Alasan saya, nama Ataturk sangat jelek di Indonesia karena identik sebagai simbol sekularisme dan anti Islam.

Yang menolak pemberian nama Ataturk diantaranya Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat. Dia mengatakan kalau pemerintah tetap akan mengabadikan namanya menjadi salah satu nama jalan di Ibukota Jakarta, hal itu jelas merupakan sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak arif, serta jelas-jelas akan menyakiti dan mengundang keresahan di kalangan umat Islam, yang itu jelas tidak kita harapkan.” kata Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas dalam keterangan tertulis, Minggu (17/10/2021).

Anwar Abbas mengatakan Mustafa Kemal Ataturk adalah seorang tokoh yang sudah mengacak-acak ajaran Islam. Anwar Abbas menyebut banyak perbuatan Ataturk yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Assunnah.

Walaupun sangat heboh masalah pemberian nama Ataturk di Jakarta, kita harapkan tidak menggoyahkan hubungan baik Indonesia dengan Turki. Bahkan sebaliknya harus semakin kukuh dan kuat hubungan kedua negara.

Oleh karena hal tersebut hanya masalah kecil yang bisa diselesaikan dengan baik melalui dialog dengan harapan tetap memperhatikan aspirasi rakyat Indonesia.

Indonesia sebagai negara demokrasi kita berharap semua pendapat dapat dihargai, dan pendapat yang berbeda dari pendapat umum lainnya tidak di kucilkan, misalnya dengan dicap radikal atau sejenisnya. Jadi setiap masyarakat dapat menyatakan aspirasinya sementara pesatuan bangsa juga terjaga.

Baca Juga

Opini

Umat Islam yang mayoritas, terus tidak berdaya dan semakin diperparah keadaan mereka karena tidak bersatu umat Islam dipecah belah, sehingga tidak pernah memegang kekuasaan...

Pendidikan

Menurut saya, berpolitik merupakan bagian dari jihad (perjuangan) yang harus aktif dilakukan umat Islam untuk mewujudkan tujuan Indonesia merdeka sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan...

Opini

Tidak sedikit yang akhirnya menjilat karena tidak tahan mengalami demoralisasi. Ada juga yang kemudian memilih diam.

DKI Jakarta

Lawatan Presiden Turki ke Jakarta, ibukota Republik Indonesia, sangat penting dan insya Allah menjadi sarana promosi untuk menarik wisatawan negara itu berkunjung ke Indonesia.

Opini

Ajakan Mardani Ali Sera, anggota DPR RI dari PKS yang juga Ketua DPP PKS adalah sah untuk bekerjasama dengan sosok yang memiliki integritas.

Opini

Kesalahan terbesar sebagian umat Islam karena menolak sistem politik yang ada dan bahkan menawarkan sistem politik yang dianggap berlawanan dengan sistem demokrasi yang ada,...

Opini

Saya apresiasi Indonesia, Amerika Serikat dan berbagai negara di dunia yang bersedia membantu rakyat Afghanistan.

Opini

Hari ini 11 September 2021 genap 20 tahun serangan terorisme terhadap World Trade Center New York Amerika Serikat.