Connect with us

Pelantikan MW KAHMI JAYA & FORHATI JAYA periode 2022 - 2027 (7/2/2022) - https://youtu.be/Tbm4cEg9RaE

Opini

HMI 75 tahun, KAHMI Mampu Membawa Indonesia Bangkit Dan Maju?

Pada 5 Februari 2022, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap berumur 75 tahun. Selama 75 tahun HMI telah mengabdi kepada bangsa dan negara dengan mengkader mahasiswa demi terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT, telah mengalami pasang surut.

Pada 5 Februari 2022, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap berumur 75 tahun. Selama HMI 75 tahun telah mengabdi kepada bangsa dan negara dengan mengkader mahasiswa demi “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT,” telah mengalami pasang surut.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan di Yogyakarta pada 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 merupakan organisasi perjuangan dan pengkaderan yang diprakarsai pendiriannya oleh Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia.

Agussalim Sitompul dalam bukunya “Sejarah dan Perjuangan HMI” (1947-1975) menjelaskan latar belakang berdirinya HMI ada tiga faktor. Pertama, situasi negara kesatuan republik Indonesia. Kedua, kondisi umat Islam Indonesia. Ketiga, situasi dunia perguruan tinggi dan mahasiswa.

Dari tiga faktor yang menjadi latar belakang didirikannya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dapat disimpulkan bahwa lahirnya organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia karena panggilan sejarah untuk ikut menyelamatkan bangsa dan negara yang baru seumur jagung, menyelamatkan umat Islam, perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan.

Panggilan Sejarah HMI 75 tahun

Himpunan Mahasiswa Islam yang lahir di Yogyakarta merupakan panggilan sejarah untuk berpartisipasi mempertahankan kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia.

Setidaknya ada lima alasan untuk memastikan bahwa lahirnya HMI merupakan panggilan sejarah.

Pertama, selama 1945-1947 Indonesia memasuki perang pisik untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Indonesia baru merdeka pada 17 Agustus 1945, sekutu masuk ke Indonesia dan Belanda yaitu Nederlandsch Indië Civiele Administratie (NICA) membonceng di dalamnya, sehingga bangsa Indonesia terpaksa angkat senjata untuk melawan penjajah yang come back.

Kedua, Indonesia pada saat itu menghadapi blokade politik dan ekonomi dari Belanda untuk melemahkan perlawanan bangsa Indonesia, sehingga HMI didirikan untuk berpartisipasi melawan penjajahan Belanda yang come back dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Ketiga, pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan agresi 1 dan melancarkan politik adu domba untuk melemahkan guna menaklukkan Indonesia. HMI didirikan untuk menggalang persatuan mahasiswa Islam guna mengambil bagian dalam perjuangan melawan penjajah dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI.

Keempat, kondisi umat Islam dan bangsa Indonesia pada saat HMI didirikan 1947, sangat memprihatinkan karena penjajah mempraktikkan politik adu domba, dan politik pecah belah (Devide et Impera). HMI didirikan untuk mempersatukan umat Islam khususnya mahasiswa Islam sehingga bersatu melawan penjajah.

Kelima, situasi perguruan tinggi dan kemahasiswaan pada saat itu (1945-1947) mendorong Lafran Pane mendirikan HMI sebagai respon atas kondisi dan situasi perguruan tinggi dan kemahasiswaan saat itu.

Kontribusi Kebangkitan dan Kemajuan

Berkat pengkaderan HMI, organisasi kemahasiswaan ini mampu mempertahankan eksistensinya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahkan setiap perubahan pemerintahan sejak era Pak Harto sampai era Jokowi, alumni HMI yang tergabung dalam KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) selalu menempati posisi terbanyak di pemerintahan.

Mereka berasal dari partai politik, profesional, pengusaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan dan sebagainya.

Walaupun alumni HMI banyak di pemerintahan, kontribusinya untuk membawa bangsa Indonesia dan negara kesatuan republik Indonesia bangkit dan maju seperti negara-negara lain, masih jauh dari yang diharapkan.

Pertanyaannya, mengapa kader-kader HMI di pemerintahan tidak mampu membawa Indonesia bangkit dan maju?

Jawabannya hanya satu, kader-kader HMI bukan pemimpin tertinggi di pemerintahan yang memimpin pemerintahan. Hanya sebagai pembantu yang melaksanakan visi misi pemimpin.

Kader HMI Yang Menjadi Presiden RI

Selama HMI 75 tahun, sudah sangat banyak kadernya di eksekutif, legislatif, yudikatif, akademisi, ulama, organisasi kemasyarakatan, profesional, pengusaha, LSM dan sebagainya.

Selain itu, sudah banyak kader HMI yang pernah dan sekarang menjadi Menteri, Gubernur, Bupati, dan Walikota. Bahkan pernah ada kader HMI menjadi Wakil Presiden RI.

Akan tetapi, belum ada kader HMI yang menjadi Presiden Republik Indonesia.

Oleh karena itu, merupakan conditio sine quanon, kader HMI yang berhimpun di KAHMI untuk berjuang menjadi calon Presiden dan Presiden RI.

Setidaknya ada enam alasan, kader HMI harus menjadi Presiden Republik Indonesia.

Pertama, alasan teologis yaitu untuk melindungi Agama (hifzuddiin) dan ulama karena ulama adalah pewaris para Nabi (Al ‘ulamaau waratsatul Ambiya).

Kedua, alasan ideologis yaitu untuk menyelamatkan Indonesia dari penguasaan dua kekuatan besar dunia (Amerika Serikat dan China). Selain itu, menyelamatkan Pancasila, dan kekayaan alam Indonesia yang sejatinya untuk sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat.

Ketiga, alasan humanity, untuk melindungi segenap bangsa Indonesia guna mewujudkan keadilan dan kebenaran bagi setiap anak bangsa Indonesia tanpa memandang agama, suku, ras dan antar golongan. Selain itu, untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.

Keempat, alasan sense of belonging (rasa memiliki) Indonesia. Sebagai wujud rasa memiliki Indonesia, maka kader HMI terpanggil untuk memimpin Indonesia sehingga bisa merawat, menjaga, memelihara, membangun dan memajukan seluruh Indonesia.

Kelima, alasan sense of responsibility (rasa tanggungjawab) terhadap Indonesia. Sebagai wujud rasa tanggungjawab, maka kader HMI harus terpanggil untuk berjuang dalam pemilu Presiden 2024, dengan harapan rakyat Indonesia memberi sokongan dan kepercayaan kepada kader terbaik HMI untuk memimpin Indonesia.

Keenam, alasan unity of Indonesia. Dengan harapan tulisan ini memberi semangat kepada para kader HMI untuk bersatu dalam memilih Kader HMI terbaik yang diusung dan diperjuangkan dengan segala daya dan upaya agar tahun 2024, HMI dan KAHMI dan seluruh rakyat Indonesia telah memiliki calon Presiden RI dan Presiden terpilih dari HMI.

Semoga tulisan ini memberi manfaat kepada para kader HMI, para aktivis mahasiswa, para pejuang kemanusiaan dan rakyat Indonesia. Saya tutup tulisan ini dengan mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 140:

وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ

Dan hari-hari (kejayaan dan kemunduran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia

Baca Juga

DKI Jakarta

Gubernur Anies dalam pesan Idul Fitri dihadapan jamaah yang memadati Pelataran Jakarta International Stadium mengatakan Pada lebaran kali ini, ia berpesan untuk menghargai keberagaman...

DKI Jakarta

Dalam rangka mudik lebaran, sebagai sosiolog saya terpanggil untuk mencegah berbagai musibah yang dialami pemudik dengan memberikan 20 Tips Mudik Selamat.

Politik

Peluncuran logo Munas KAHMI ke XI oleh Prof. Mahfud MD, Menko Polhukam RI yang juga Ketua Dewan Pakar Majelis Nasional KAHMI, didampingi Akbar Tandjung,...

Politik

Belajar dari Chechnya, Ukraina dan Rusia, Muslim Indonesia harus kuat. Supaya kuat, maka harus bersatu dan jangan mau jadi alat untuk kepentingan penguasa yang...

Politik

Sekarang ini banyak sekali lembaga riset yang bermunculan. Motifnya tidak lain dan tidak bukan untuk mencari uang. Salah satu bidang yang banyak di survei...

Politik

Luar biasa!!! Tidak pernah dalam sejarah Indonesia, para tokoh politik dan Warga Negara Indonesia (WNI) dari berbagai penjuru dunia ikut menggugat presidential threshold 20...

Opini

Tanpa terasa bangsa Indonesia telah berada di penghujung tahun 2021 Masehi. Sebagai bangsa yang mayoritas Muslim, alhamdulillah telah menjalani tahun 2021 dengan rasa syukur....

Opini

Umat Islam yang mayoritas, terus tidak berdaya dan semakin diperparah keadaan mereka karena tidak bersatu umat Islam dipecah belah, sehingga tidak pernah memegang kekuasaan...