Connect with us

Pasar Gudang Lelang, Lampung, Indonesia (28/8/2019) - unsplash deviyahya

Dunia Usaha

Harga Kebutuhan Pokok Naik: Bagaimana Bulan Ramadhan dan Idul Fitri?

Sejatinya kenaikan harga kebutuhan rumah tangga sudah mengalami kenaikan sejak akhir Desember 2021. Sekarang ini (2022) semakin meningkat harganya dan menjadi tontonan yang kurang baik karena terjadi antrian minyak goreng akibat langka di pasar.

Seorang penjual yang setiap hari melewati depan rumah saya, saat libur Isra’ Mi’raj (28/2), saya sempat bertemu, dia lalu curhat (curahan hati) dan meminta kepada saya supaya menyuarakan kesulitan rakyat kecil akibat naiknya berbagai macam kebutuhan.

Menurut dia, sekarang ini apa-apa sudah naik harganya, nanti kalau masuk bulan ramadhan dan lebaran Idul Fitri, pasti harga-harga semakin melambung harganya.

Rakyat kecil semakin sulit hidupnya kata dia. Tolonglah suarakan penderitaan rakyat kecil kalau masuk TV kata dia.

Harga Kebutuhan Pokok Naik

Sebagai sosiolog tentu saya mendengarkan curhat seorang pedagang kecil yang sudah puluhan tahun kami berkenalan.

Untuk memastikan kebenaran yang disuarakan tersebut, saya juga cek ke berbagai pihak termasuk ke isteri saya. Isteri saya membenarkan naiknya harga berbagai kebutuhan rumah tangga termasuk isi ulang elpiji ukuran 12 kg dari sebelumnya Rp167.000/kg sekarang menjadi Rp192.000/kg (sudah final, termasuk ongkos antar).

Sejatinya kenaikan harga kebutuhan rumah tangga sudah mengalami kenaikan sejak akhir Desember 2021. Sekarang ini (2022) semakin meningkat harganya dan menjadi tontonan yang kurang baik karena terjadi antrian minyak goreng akibat langka di pasar.

Berdasarkan keluhan masyarakat dan pemantauan langsung di lapangan, hampir semua jenis komoditi terus merangkak naik. Kenaikan parah terjadi pada harga cabai, telur ayam, daging dan minyak goreng.

Pada 4 Januari 2022, tercatat harga minyak goreng kemasan bermerk rata-rata sebesar Rp 20.700/kg, telur ayam ras Rp 30.300/ kg, daging ayam ras segar tercatat Rp 38.350/kg, Gula Pasir Rp. 12.750 dan cabai rawit merah Rp.96.400,- per kg,. Ditambah lagi harga gas elpiji juga mengalami kenaikan seperti diungkapkan di atas.

Penderitaan Masyarakat

Meningkatnya harga berbagai kebutuhan rumah tangga sangat memukul masyarakat yang bekerja serabutan, yang berpendapatan tidak pasti. Selain itu, mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menganggur.

Penderitaan masyarakat bawah ini, akan semakin meningkat pada saat puasa Ramadhan dan lebaran Idul Fitri.

Masyarakat Muslim sejak kecil sudah dididik puasa pada bulan Ramadhan. Jika sudah tiba Idul Fitri, sudah menjadi budaya untuk beli baju dan silaturrahim.

Selain itu, menjelang lebaran Idul Fitri budaya mudik sulit dicegah. Pada saat itu, apapun yang dimiliki digadaikan untuk mendapatkan uang demi mudik atau membeli keperluan lebaran Idul Fitri.

Kondisi yang dialami masyarakat, semakin sulit karena akibat pandemi Covid-19, kehidupan masyarakat bawah bertambah sulit akibat ekonomi belum pulih, sehingga pekerjaan apapun yang dikerjakan masyarakat sulit mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kehidupan masyarakat kecil sudah susah, harus pula dibebani dengan biaya hidup yang terus meningkat sehubungan naiknya harga bahan pokok dan kebutuhan rumah tangga dipasaran. Dampaknya, semakin melemahkan daya beli masyarakat.

Solusi Yang Bisa Dilakukan

Setidaknya harus dilakukan berbagai kegiatan sebagai solusi untuk mengurangi kesulitan hidup masyarakat.

Pertama, pemerintah mengupayakan secara maksimal untuk menurunkan harga berbagai macam kebutuhan rumah tangga termasuk melakukan operasi pasar secara terus menerus untuk menurunkan harga.

Kedua, pemerintah menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk menolong mereka yang sangat miskin sekaligus mendorong daya beli dan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, menggalang kesetiawanan sosial terutama para pengusaha besar untuk memberikan CSR (Corporate Social Responsibiliy) kepada masyarakat miskin di berbagai daerah di Indonesia.

Keempat, menggiatkan pembayaran zakat fitrah, infaq, sadaqah dan zakat harta pada bulan Ramadhan untuk dibagikan kepada mereka yang miskin, menganggur dan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Kelima, pemerintah daerah dan berbagai lembaga Islam menggalang dana untuk memberi beasiswa kepada putera-puteri dari kalangan masyarakat miskin untuk melanjutkan pendidikan di dalam luar negeri.

Selain itu, ulama dan ustaz pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan berikutnya untuk terus-menerus menggelorakan pentingnya umat Islam membangun ekonomi yang kuat, sumber daya manusia yang berkualitas serta membangun persatuan dan kesatuan.

Dengan melakukan tiga hal yang dikemukakan di atas, maka umat Islam yang masih miskin dan mengalami kesulitan, melalui anak-anak mereka yang berpendidikan tinggi, memiliki kegiatan ekonomi (bisnis) bisa membawa orang tua dan sanak famili keluar dari kemiskinan yang mendera mereka sepanjang masa.

Semoga kenaikan harga kebutuhan rumah tangga mulai sekarang sampai tiba bulan Ramadhan dan lebaran Idul Fitri bisa diatasi dengan semangat kolaborasi dan gotong-royong.

Baca Juga

Opini

Demo penolakan kenaikan harga BBM bersubsidi terjadi di seluruh negeri. Di Jakarta hampir tiap hari terjadi demo.

Opini

Keputusan harga Bahan Bakar Minyak BBM bersubsidi naik, pasti memberi dampak sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Covid-19

Para pemimpin di berbagai negara lengser dari kekuasaan disebabkan banyak faktor, tetapi faktor utama adalah ekonomi akibat pandemi Covid-19 dan dampak negatif dari Konflik...

DKI Jakarta

Sebanyak 260 UMKM didatangkan ke arena Formula E di Ancol Jakarta Utara. Ada yang merupakan binaan dari Jakpreneur, tetapi juga ada yang dari 10...

Politik

Salah satu kegiatan yang membuat perayaan Milad PKS ke-20 semarak dan meriah karena sangat banyak usaha mikro, kecil dan menengah yang berpartisipasi membuka stand.

Dunia Usaha

Perbincangan publik di seluruh Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini sangat ramai karena krisis minyak goreng yang mengakibatkan emak-emak antri, 2 orang meninggal dunia.

Politik

Kondisi yang dialami Ukraina merupakan pelajaran yang amat penting dan berharga bagi Indonesia.

Opini

Indikator yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menganalisis bahwa Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja antara lain, masalah politik.