Connect with us

News conference by Vladimir Putin and Emmanuel Macron following Russian-French talks (2/8/2022) - twitter KremlinRussia_E

Politik

Putin ke Indonesia Setelah Menang? Bagaimana Ukraina dan Negara Eropa Lainnya?

Rusia akhirnya menggunakan rudal hipersonik dalam melawan Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia mengaku mereka telah menggunakan Kinzhal (berarti belati dalam bahasa Rusia), rudal aerobalistik hipersonik.

Konflik yang tengah terjadi antara Rusia dengan Ukraina, pada hakikatnya adalah konflik antara Rusia melawan Ukraina, melawan Amerika Serikat dan negara-negara NATO.

Jauh sebelum Rusia melakukan operasi militer terhadap Ukraina, Amerika Serikat dan negara-negara NATO sudah mengirim para ahli militer untuk melatih tentara Ukraina. Tidak hanya Amerika Serikat dan negara-negara NATO melatih tentara Ukraina, tetapi juga memasok senjata, memberi bantuan dana dan segala macam keperluan Ukraina untuk melawan invasi Rusia.

Jadi, konflik Rusia melawan Ukraina, juga merupakan konflik melawan Amerika Serikat dan negara-negara NATO. Itu sebabnya, sudah hampir satu bulan Rusia melakukan spesial operasi militer terhadap Ukraina, Rusia belum berhasil merebut Kiev ibu kota Ukraina. Tetapi telah menghancurkan kota lainnya seperti Kharkiv kota terbesar ke-2 di Ukraina dan kota Mariupol.

Rusia Gunakan Hipersonik

CNBC Indonesia melaporkan, Rusia akhirnya menggunakan rudal hipersonik dalam melawan Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia mengaku mereka telah menggunakan Kinzhal (berarti belati dalam bahasa Rusia), rudal aerobalistik hipersonik.

Senjata itu dikerahkan untuk menghancurkan gudang bawah tanah rudal Ukraina dan amunisi penerbangan di Delyatin, di wilayah Ivano-Frankivsk, Ukraina barat.

Pemerintah Rusia mengatakan telah menggunakan rudal aerobalistik hipersonik Kinzhal lagi untuk menghancurkan basis penyimpanan besar bahan bakar dan pelumas Ukraina di wilayah Mykolaiv.

Dalam sebuah pernyataan, Moskow menyebut bahwa itu adalah basis pasokan bahan bakar utama untuk kendaraan lapis baja Ukraina di daerah pertempuran di Ukraina selatan.

CNBC Indonesia mengutip kantor berita Rusia mengatakan bahwa penggunaan rudal hipersonik yang dilaporkan menjadi yang pertama kalinya digunakan militer Rusia dalam serangan ke Ukraina, sejak dimulai pada 24 Februari lalu.

Biden mengatakan salah satu alasan Presiden Rusia, Vladimir Putin, menggunakan rudal hipersonik di Ukraina karena Moskow dalam keadaan terdesak. Menurutnya, Putin sudah tak memiliki pilihan lain selain menggunakan cara brutal dalam melancarkan invasin karena “operasi militernya” yang sudah berlangsung lebih dari tiga pekan itu belum juga membuahkan hasil signifikan.

Rusia Bakal Pakai Senjata Nuklir?

Biden, Presiden Amerika Serikat telah mengemukakan bahwa Rusia menggunakan senjata Hipersonik di Ukraina karena terdesak.

Pernyataan Presiden Biden itu, jika benar, maka terbuka peluang Rusia menggunakan senjata nuklir untuk menaklukkan Ukraina, yang juga berarti mengalahkan Amerika Serikat dan negara-negara NATO.

Sejauh ini, Rusia hanya mengatakan bakal pakai senjata nuklir jika ada ancaman eksistensial. Rusia hanya akan menggunakan senjata nuklir jika menghadapi ancaman eksistensial. Hal itu disampaikan Juru Bicara Pemerintah Rusia, Dmitry Peskov saat diwawancara CNN, Selasa (22/3).

“Jika ada ancaman eksistensial terhadap negara kami, maka bisa digunakan sesuai dengan prinsip kami,” kata Peskov.

Sekarang ini, sejumlah pihak sangat khawatir Rusia bakal memakai senjata nuklirnya saat melawan Ukraina. Namun, Peskov tidak menjawab tegas soal kemungkinan penggunaan senjata nuklir untuk melawan Ukraina atau negara-negara Barat.

Putin Jalin Hubungan Dengan Prancis dan Turki

Sebelum Presiden Putin melakukan spesial operasi militer terhadap Ukraina, Presiden Macron dari Prancis, begitu pula Presiden Erdogan, aktif melakukan pembicaraan dengan Presiden Putin.

Dampak positif dari hubungan komunikasi tersebut kedua negara itu, walaupun ditekan oleh Amerika Serikat untuk menjatuhkan sanksi, kedua negara itu tidak menjatuhkan sanksi kepada Rusia. Sebagaimana diketahui bahwa Prancis merupakan anggota NATO yang memiliki kekuatan angkatan bersenjata yang hebat, begitu juga Turki.

Kedua negara itu, tetap menjaga hubungan baik dengan Rusia, dan Turki sebagai negara yang berdekatan dengan Rusia aktif mencari solusi damai dengan mempertemukan Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia dengan Dmytro Kuleba, Menteri Luar Negeri Ukraina untuk berunding langsung di Turki.

Walaupun belum memberi hasil damai antara Rusia dengan Ukraina sebagaimana yang diharapkan, tetapi upaya Turki patut diapresiasi.

Orang Kaya Rusia di Turki

Turki sebagai anggota NATO yang tetap menjaga hubungan baik dengan Rusia, telah menjadi tempat yang dianggap nyaman dan aman bagi orang-orang kaya Rusia yang dikenakan sanksi oleh Amerika Serikat dan negara-negara barat karena dianggap orang dekat Putin.

Sebuah kapal pesiar mewah yang dikaitkan dengan oligarki Rusia yang terkena sanksi, Roman Abramovich, terlihat berlayar beberapa kilometer dari pantai barat daya Turki pada Senin.

Data penelusuran kapal menunjukkan kapal itu terlihat di Turki setelah melintasi perairan Uni Eropa (EU) dalam beberapa hari terakhir.

Abramovich adalah miliuner Rusia yang dimasukkan ke daftar hitam EU pekan lalu bersama puluhan orang super kaya Rusia lainnya. Pemerintah negara-negara EU telah menyita sejumlah kapal pesiar dan aset mewah milik mereka.

Sejumlah pemimpin dunia sedang berusaha mengisolasi Presiden Vladimir Putin dan sekutunya karena agresi militer Rusia di Ukraina.

Media memberitakan bahwa pekan lalu, Abramovich terbang meninggalkan Istanbul dengan jet pribadinya. Menurut data penelusuran pesawat, penerbangan itu merupakan kali kedua yang dilakukan oleh jet Abramovich antara Istanbul dan Moskow dalam tiga hari.

Dengan demikian, konflik antara Rusia dengan Ukraina, Turki dianggap negara yang nyaman dan aman bagi orang-orang super kaya di Rusia untuk tempat tinggal karena mereka masuk daftar hitam di negara-negara Eropa.

Kondisi demikian pasti menguntungkan Turki karena mereka bisa diajak investasi untuk memajukan ekonomi Turki, membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan bagi rakyat Turki.

Putin ke Indonesia Setelah Menang?

Pemimpin Rusia Vladimir Putin akan berencana datang ke Indonesia menghadiri KTT G20 yang diselenggarakan di Bali akhir tahun 2022 ini. Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia.

Hal ini merupakan suatu strategi dimana Putin secara tidak langsung meng-klaim bahwa Rusia telah menang walaupun konflik Ukraina-Rusia sampai saat ini belum berhenti. Sampai detik ini bahkan belum ada kesepakatan apapun yang disetujui kedua negara.

Hanyalah waktu yang akan menjawab akankah Putin dapat berkunjung ke Indonesia menghadiri KTT G20.

Baca Juga

Politik

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Arab Saudi untuk bertemu dengan raja Salman bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Kita...

Politik

Dunia dalam keadaan tidak aman. Pertahanan dan keamanan sedang terancam dan adanya potensi perang dunia.

Politik

kecaman terhadap Putin karena menginvasi Ukraina seharusnya juga diterapkan kepada Negara Israel atas perlakuannya terhadap warga Palestina.

Politik

Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO, bersekutu untuk melawan Rusia yang melakukan operasi militer terhadap Ukraina dengan membantu dana dan persenjataan terhadap Ukraina dalam...

Politik

Belajar dari Chechnya, Ukraina dan Rusia, Muslim Indonesia harus kuat. Supaya kuat, maka harus bersatu dan jangan mau jadi alat untuk kepentingan penguasa yang...

Politik

Invasi militer Rusia ke Ukraina didahului dengan dekrit Presiden Putin yang mengakui kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk yang memisahkan diri dari...

Opini

Sekarang ini sangat ramai dan heboh perbincangan di media sosial tentang rencana memberi nama jalan Kemal Ataturk di Menteng Jakarta.

Opini

Presiden Turki Erdogan merupakan pemimpin di dunia Islam yang amat populer. Mayoritas rakyat Turki sangat mencintai dan menghormatinya, tetapi kaum sekuler sangat membencinya. Erdogan...