Connect with us

Detik-detik Kedatangan Mahathir Mohamad di Rakernas NasDem (17/6/2022) - youtube Media Indonesia https://www.youtube.com/watch?v=lh5iv6fE4Ks

Pemilu

Mahathir Mohamad di Rakernas Nasdem: Pemimpin Yang Baik Adalah Pemimpin Yang Memikirkan Rakyatnya

Tun Mahathir Mohamad menyebut prinsip demokrasi harus dipahami oleh masyarakat. Dalam penjelasannya, lagi-lagi Mahathir kembali mengucapkan kata ‘tewas’ yang membuat para kader NasDem tertawa.

Mahathir Mohamad, Perdana Menteri (PM) Malaysia ke-4 dan ke-7 mengatakan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memikirkan rakyatnya, mempunyai empati dan memperjuangkan masa depan rakyatnya, berani mengambil keputusan yang kadangkala tidak populer tetapi harus diambil untuk kebaikan rakyat.

Tun Mahathir Mohamad mengemukakan hal tersebut saat memberi Kuliah Umum (Stadium Generale) dihadapan peserta Rapat Kerja Nasional Partai Nasdem yang bertajuk “Politik Membangun Peradaban,” yang dilaksanakan di JCC Jakarta (17/6/2022).

Lebih lanjut Tun Mahathir mengatakan bahwa dalam sistem demokrasi, adakalanya rakyat salah pilih pemimpin. Melalui pemilu berikutnya rakyat dapat mengoreksi pilihannya yang salah.

Mahathir juga berbicara tentang sosok pemimpin yang memenangi Pemilu. Mahathir berpendapat seorang pemimpin yang terpilih dalam Pemilu harus fokus dalam pembangunan nasional dan tidak terpengaruh isu politik.

“Maksud saya kata Mahathir setelah pemilu kepemimpinan yang terpilih harus diberi peluang untuk memberi fokus pada pembangunan nasional. Dan tidak terganggu dengan isu-isu politik. Dan yang lain.”

Menurut Mahathir seseorang yang ikut dalam ajang politik harus memiliki kematangan. Saat itu dia menyebut dalam Pemilu ada pihak yang menang dan ada pihak yang ‘tewas’ (kalah).

“Ini memerlukan kematangan yang berpolitik, pihak yang menang dan pihak yang tewas,” kata Matathir.

Tun Mahathir Mohamad menyebut prinsip demokrasi harus dipahami oleh masyarakat. Dalam penjelasannya, lagi-lagi Mahathir kembali mengucapkan kata tewas yang membuat para kader NasDem tertawa.

“Demokrasi yang dipegang perlu dipahami sebagai menerima keputusan majority rakyat, yang ‘tewas’ menghormati pesan tersebut dan tidak melakukan yang menyebabkan ketidakstabilan negara,” ucapnya.

Dalam tanya jawab dengan Tun Mahathir, seorang kader Nasdem bertanya tentang buku yang ditulis Tun Mahathir sebelum menjadi Perdana Menteri berjudul “The Malay Dilemma,” dikaitkan dengan perkembangan teknologi sekarang ini.

Tun Mahathir menjawab pertanyaan, dia menulis buku “The Malay Dilemma” (1970) sebagai bentuk keprihatinannya melihat kaum Melayu miskin, tertinggal dalam bidang pendidikan dan ekonomi serta tinggal di luar bandar. Menurut Tun Mahathir, kaum Melayu yang tertinggal dalam segala bidang harus di advokasi dan dibuatkan berbagai kebijakan untuk dilakukan aksi pemihakan kepada mereka agar mereka maju seperti kaum yang lain.

Sebelum Tun Mahathir Mohamad menyampaikan kuliah umum, Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem memberikan sambutan yang memuji Tun Mahathir yang tidak ada duanya yang sudah dikenalnya dan saling sudah berhubungan selama 40 tahun lamanya. Dia menyebut Tun Mahathir sebagai pemimpin yang banyak memberikan inspirasi bagi kemajuan bangsa dan negara.

Baca Juga